Jumat, 31 Oktober 2008

Puisi tentang ILMU

Mempelajari ilmu merupakan kebaikan
Mencarinya merupakan ibadah
Mengingat-ingatnya adalah tasbih
Mendalaminya adalah jihad
Mengajarkannya pada yang belum mengerti adalah sedekah
Mengingatkannya pada yang sudah menegrti adalah taqarub

Ilmu sarana mencapai tempat di surga
teman di waktu sepi
kawan dalam pengasingan
penunjuk jalan kesenangan
penolong dalam kesulitan
hiasan di tengah-tengah kawan
senjata dalam menghadapi musuh

Ilmu menghidupkan hati dari kebodohan
pelita dalam kegelapan
kekuatan dari segala kelemahan
sarana mencapai derajat bagi orang-orang baik
kala hidup di dunia maupun di akhirat

Ilmu merupakan pemimpin
dan amal adalah pengikutnya
Ilmu hanya diberikan
kepada orang-orang yang beruntung
takkan diberikan
kepada orang-orang yang malas

(Mu'az bin Jabal)


Senin, 27 Oktober 2008

Ikhwan kok Tebar Pesona

Bismillahirrohmaanirrohim


Ini diambil dari blognya iam. Seorang teman akhwat jatuh sakit dan berat badannya menurun drastis. Semua heran. teman yang energik dan sehat begitu kok ya bisa ngedrop. Usut punya usut, ternyata sang akhwat patah hati. Ada seorang ikhwan yang rajin sms dan menelponnya, memberi perhatian-perhatian khusus yang cukup membuatnya melambung. Frekuensi kontakan yang cukup tinggi itu menimbulkan harapan-harapan baru pada diri sang akhwat, tanpa bermaksud untuk kege-eran, si akhwat menangkap ada sinyal-sinyal khusus dari sang ikhwan untuk tidak sekedar ber"hai-hai" via sms atau telpon. Terutama karena pembicaraan pun sudah mengarah-arah ke "sana".


Selang beberapa waktu ke depan, frekuensi kontakan berkurang. Sang ikhwan yang biasanya sms 3 kali sehari, berkurang menjadi sehari sekali, kemudian menjadi 3 hari sekali, dan akhirnya gak sama sekali. Yang biasanya menanyakan "udah makan belum?" atau "dah sampai mana tilawahnya?" akhirnya hanya menjadi sms ala kadarnya yang garing. Deringan telpon membangunkan tahajud untuk sang akhwat pun tak ada lagi. Padahal semua uda diberi, pulsa, pinjeman uang..hihihi


Singkat kata, akhirnya ketahuan kalo sang ikhwan memilih mundur untuk tidak melanjutkan hubungan ke tingkat yang lebih serius. Entah apa alasannya, tak ada yang tau pasti. Mungkin ia menemukan ketidakcocokan pada diri sang akhwat, atau mungkin juga pada dasarnya sang ikhwan belum terlalu mantap. Namun apapun yang menjadi alasannya, sang ikhwan telah menorehkan luka pada diri sang akhwat, tanpa ia sadari.


Itu hanya satu kasus di depan mata yang cukup membuat hati miris. Masih banyak kasus-kasus serupa bertebaran di mana-mana. Kepada para ikhwan, jika belum siap atau merasa mantap jangan tergesa-gesa melakukan pedekate. Jangan jadikan akhwat objek untung-untungan (cocok lanjut, gak cocok tinggalin, ato terima syukur gak ya gpp...hayooo..ngaku gak klo sering kek gitu mas-mas..????). Tahukah anda semua, kelemahan wanita adalah dari perhatian-perhatian yang kalian berikan. Sedikit perhatian sudah dapat meluluhkan hati wanita. Ketika akhirnya kalian memutuskan untuk "mundur" karena ketidakmantapan tadi, itu sama artinya seperti kalian menusukan panah tajam berapi ke tubuh wanita (hiperbola dikit yak...:D). Baca dulu disini, disana .


Jika memang sudah berkecenderungan terhadap seorang akhwat, sholat istikharah dulu, mantapkan hati, luruskan niat, baru tembaaaaak...:D (klo lamaran ditolak ya resiko...jangan nyari dukun, hehehe...)
Namun untuk lebih amannya ya lewat jalur resmi, sesuai prosedur....

Jumat, 10 Oktober 2008

Respect Your Mom

Bimsillaahirrohmaanirrohim

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya.Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.


Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang. Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?" "Ya, tetapi, aku tdk membawa uang" jawab Ana dengan malu-malu.
"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai.

"Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu".
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
"
Ada apa nona?" Tanya si pemilik kedai.
"Tidak apa-apa" aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air
matanya.
"Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !,
tetapi,...ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan
mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah"
"Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan
dengan ibu kandungku sendiri" katanya kepada pemilik kedai
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata : "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya"

Ana, terhenyak mendengar hal tsb.
"Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.

Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia mnguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya.

Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.

Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang"


Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.

Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

Kamis, 18 September 2008

Alhmd..dapet Tag Pertama

Bismillaahirrohmaanirrohim..

Alhmd, ulya dapet tag dari kaka malena . Makasi ya, kakak.




didukung oleh : antownholic.com, dee-adp.blogspot.com, pencakarlangit.blogspot.com, questionquince.blogspot.com, dessycherrypone.blogspot.com, greicheanwar.blogspot.com, raygatrasadi.blogspot.com, keiraadzra.blogspot.com, nadhiramalena.blogspot.com, bundadanulya.blogspot.com

1. Copy gambar diatas lalu posting di blogmu
2. Lanjutkan tag ini minimal ke 5 blogger muslim yang kamu kenal. Jangan lupa tinggalkan komentar pada blog mereka ya.
3. Tulis alamat blogmu (dibawah gambar) setelah alamat blog pemberi tag.

Tag selanjutnya diserahkan kepada :
1. Ammah Weni , semoga semakin rajin ngeblog nya ;
2. Fariha , selamat lebaran di kalimantan ;
3. Ammah Mei , met jago warnet b ;
4. Ibu Indah , barakallah milad pernikahnnya ;

Mohon diterima ya tag nya..

Selasa, 09 September 2008

If We Having 4 Wives

Dahulu kala...

Ada seorang raja yang mempunyai 4 isteri.

Raja ini sangat mencintai isteri keempatnya dan selalu menghadiahkannya pakaian-pakaian yang mahal dan memberinya makanan yang paling enak. Hanya yang terbaik yang akan diberikan kepada sang isteri.

Dia juga sangat memuja isteri ketiganya dan selalu memamerkannya ke pejabat-pejabat kerajaan tetangga. Itu karena dia takut suatu saat nanti, isteri ketiganya ini akan meninggalkannya.

Sang raja juga menyayangi isteri keduanya. Karena isterinya yang satu ini merupakan tempat curahan hatinya, yang akan selalu ramah, peduli dan sabar terhadapnya. Pada saat sang raja menghadapi suatu masalah, dia akan mengungkapkan isi hatinya hanya pada isteri ketiga karena dia bisa membantunya melalui masa-masa sulit itu.

Isteri pertama raja adalah pasangan yang sangat setia dan telah memberikan kontribusi yang besar dalam pemeliharaan kekayaannya maupun untuk kerajaannya. Akan tetapi, si raja tidak peduli terhadap isteri pertamanya ini meskipun sang isteri begitu mencintainya, tetap saja sulit bagi sang raja untuk memperhatikan isterinya itu.

Hingga suatu hari, sang raja jatuh sakit dan dia sadar bahwa kematiannya sudah dekat.

Sambil merenungi kehidupannya yang sangat mewah itu, sang raja lalu berpikir, "Saat ini aku memiliki 4 isteri disampingku, tapi ketika aku pergi, mungkin aku akan sendiri".

Lalu, bertanyalah ia pada isteri keempatnya, "Sampai saat ini, aku paling mencintaimu, aku sudah menghadiahkanmu pakaian-pakaian yang paling indah dan memberi perhatian yang sangat besar hanya untukmu. Sekarang aku sekarat, apakah kau akan mengikuti dan tetap menemaniku?"

"Tidak akan!" balas si isteri keempat itu, ia pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi.

Jawaban isterinya itu bagaikan pisau yang begitu tepat menusuk jantungnya.

Raja yang sedih itu kemudian berkata pada isteri ketiganya, "Aku sangat memujamu dengan seluruh jiwaku. Sekarang aku sekarat, apakah kau tetap mengikuti dan selalu bersamaku?"

"Tidak!" sahut sang isteri. "Hidup ini begitu indah! Saat kau meninggal, akupun akan menikah kembali!"

Perasaan sang rajapun hampa dan membeku.

Beberapa saat kemudian, sang raja bertanya pada isteri keduanya, " Selama ini, bila aku membutuhkanmu, kau selalu ada untukku. Jika nanti aku meninggal, apakah kau akan mengikuti dan terus disampingku?"

"Maafkan aku, untuk kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaaanmu!" jawab isteri keduanya. "Yang bisa aku lakukan, hanyalah ikut menemanimu menuju pemakamanmu."

Lagi-lagi, jawaban si isteri bagaikan petir yang menyambar dan menghancurkan hatinya.

Tiba-tiba, sebuah suara berkata:

"Aku akan bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi." Sang raja menolehkan kepalanya mencari-cari siapa yang berbicara dan terlihatlah olehnya isteri pertamanya. Dia kelihatan begitu kurus, seperti menderita kekurangan gizi.

Dengan penyesalan yang sangat mendalam kesedihan yang amat sangat, sang raja berkata sendu, "Seharusnya aku lebih memperhatikanmu saat aku masih punya banyak kesempatan!"

Dalam realitanya, sesungguhnya kita semua mempunyai '4 isteri' dalam hidup kita....

'Isteri keempat' kita adalah tubuh kita. Tidak peduli berapa banyak waktu dan usaha yang kita habiskan untuk membuatnya terlihat bagus, tetap saja dia akan meninggalkan kita saat kita meninggal.

Kemudian 'Isteri ketiga' kita adalah ambisi, kedudukan dan kekayaan kita.
Saat kita meninggal, semua itu pasti akan jatuh ke tangan orang lain.

Sedangkan 'isteri kedua' kita adalah keluarga dan teman-teman kita. Tak peduli berapa lama waktu yang sudah dihabiskan bersama kita, tetap saja mereka hanya bisa menemani dan mengiringi kita hingga ke pemakaman.

Dan akhirnya 'isteri pertama' kita adalah jiwa, roh, iman kita,

yang sering terabaikan karena sibuk memburu kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan nafsu.
Padahal, jiwa, roh, atau iman inilah yang akan mengikuti kita kemanapun kita pergi.

Jadi perhatikan, tanamkan dan simpan baik-baik dalam hatimu sekarang!
Hanya inilah hal terbaik yang bisa kau tunjukkan pada dunia.

Bunda dan Ulya

Rabu, 03 September 2008

Sebuah Jalan Yang Ditempuh Cinta

Bismillahirrohmaanirrohim

Apa jadinya ketika sepasang suami istri berbudi menjodohkan masing-masing sahabat mereka yang belum pernah saling mengenal, memiliki karakter berlawanan serta kultur yang begitu berbeda?
“Mereka akan menjadi pasangan yang hebat!” kata sang istri. Sambil mempromosikan gadis berjilbab sahabatnya.
“Sangat menarik dan akan saling melengkapi!” tutur si suami sambil dengan semangat menceritakan tentang jaka yang saleh, sahabatnya.
“Jika Allah mengizinkan, mereka akan menjadi pasangan yang cocok!”

Gadis dan jaka sama-sama kuliah di UI, namun berbeda fakultas. Mereka sama-sama aktif dalam kegiatan kerohanian Islam. Dua kali pasangan suami istri sahabat mereka itu mencoba mempertemukan jaka dan gadis dalam satu forum. Namun saat Jaka datang, si gadis tiba-tiba berhalangan. Ketika gadis hadir, si jaka yang tak bisa. Akhirnya sepasang suami istri tersebut mencoba mengatur pertemuan ketiga sambil memberikan data “orang” yang ingin mereka perkenalkan masing-masing pada jaka dan si gadis— secara sendiri-sendiri.

Di kamar kos-nya gadis melihat data-data si jaka dan fotonya. Ini yang mau diperkenalkan itu…dan diharap oleh sahabatnya bisa menjadi pasangan hidup abadi si gadis? Priyayi Solo? Bagaimana cara berbicara yang dianggap santun oleh orang Solo? Si gadis geleng-geleng kepala. Jangankan menjadi istri, bisa-bisa dia kabur melihat gaya bicaraku…


Dalam kamar kos yang lain, di seberang gang kober, jaka tertegun. Sudah lumayan sering aku mendengar kiprah gadis itu di kampus dan majalah. Tapi apa tak salah? Si kelahiran Medan ini punya penyakit begitu banyak? Jantung, pernah gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening? Waduh, bagaimana bila “si penyakitan” ini kelak menjadi istrinya? Tapi prestasinya lumayan…rekomendasi dari sahabatku bukan sembarangan.


Tak dinyana, sebelum sempat diadakan ta’aruf, dalam salah satu forum di universitas, jaka dan gadis bertemu. Apa yang terjadi dalam diskusi pagi itu?

Sebuah perdebatan yang panjang. Cara pandang yang begitu berbeda. Dan tiba-tiba pagi di UI menjadi tak cerah.
Pria yang membosankan dan keras kepala, pikir si gadis.
Dasar keras hati! Belum ada perempuan yang berbicara menentangku seperti
gadis ini! Pikir si jaka.
Lelaki seperti ini yang ingin diperkenalkan padaku? Si gadis nyengir. Dia akan kapok denganku dan segera melupakan langkah lanjut perkenalan kami…

Si jaka tak kalah gerah. Perempuan seperti ini? Aku selalu berpikir perempuan adalah kelembutan, kematangan, kepatuhan…, pikir si jaka. Tapi ini?

Sepanjang forum kata-kata berseliweran dalam ruangan itu, terutama dari mulut gadis dan jaka tersebut. Forum tersebut bukan tak penting, sebab mereka dan semua teman yang hadir pada saat itu tengah membicarakan suksesi kepemimpinan mahasiswa di universitas mereka.

“Menurut saya tidak bisa seperti itu!”

“Mengapa tidak? Menurut saya yang demikian yang paling mungkin!”
“Tidak bisa! Karena….”
“Bisa! Karena….

Setelah perundingan yang melelahkan, akhirnya dicapai kesepakatan. Sebuah kesepakatan yang didapat dengan catatan.
Ini mungkin pertama dan terakhir kali kami bertemu dan berbicang, pikir si gadis. Dia pasti kapok dan tak ingin mengenalku lebih dalam. Tapi tak apa, setidaknya aku tak berpura-pura membuat ia terkesan….

Jaka resah. Gadis seperti ini? Entahlah. Keras kepala,penyakitan pula! Apa harus diteruskan?

Tak pernah ada perkenalan yang direncanakan lagi setelah itu. Kelihatannya mereka memang tak cocok dan mungkin akan saling melupakan.

Namun tak lama kemudian, pada suatu pagi, seseorang datang ke tempat gadis dan berkata: “Saya sudah istikharah dan kamu selalu muncul. Bersediakah?” (lupakan ia penyakitan, ia baik untuk menjadi istriku. Allah menunjukkannya!)

Gadis tak mengerti. Dia diam. Apa yang dilihat lelaki muda itu dari dirinya? Tak cantik. Tak kaya. Tak terlalu cerdas. Sangat biasa. Pernah “bertengkar” pada pertemuan pertama pula. Apa? Apa yang dilihat lelaki itu? Pilihan yang tak lazim…
Gadis pun memilih istikharah sebelum menjawab.

Sesuatu yang menakjubkan dan tak terduga muncul! Seperti ada yang membimbing ketika si gadis berkata “Ya”.

Sebulan kemudian, jaka melamar gadis. Dan hanya diperlukan waktu sebulan lagi sebelum kemudian jaka dan gadis menikah! Sungguh akhir yang tak terduga!

Sebuah pernikahan berlangsung sederhana namun meriah, di Jakarta. Banyak sekali saudara dan sahabat yang hadir. Mereka bertanya-tanya, bagaimana dua pasangan ini bisa bertemu?

Pada malam pertama gadis dan jaka berbicara hingga dinihari, shalat malam dan tilawah bersama.

“Jadi bagaimana sampai bisa kamu punya penyakit sebanyak itu?” tanya jaka pada istrinya tiba-tiba.

“Apa, Mas? Penyakit? Maaf, penyakit apa ya?” gadis balik bertanya.
“Jantung, gegar otak, paru-paru, kelenjar getah bening, ….”
“Apa?” gadis bingung.
“Mas baca di datamu. Data yang diberikan oleh sahabat kita itu! Tapi Mas sudah ikhlas kok menerima dengan segala kelebihan dan kekurangan. Semoga kamu juga begitu ya….”
Gadis ternganga. Penyakit?
“Mas, aku nggak punya penyakit seperti itu. Paling-paling cuma mag…,” gadis nyengir lagi.

Jaka terkejut sekali. Tak lama wajahnya berseri-seri. “Alhamdulillah” (ia ingat, ia sudah mengambil resiko untuk memilih gadis yang keras kepala itu, meski ia “penyakitan,” meski orangtuanya sangat keberatan dengan ragam penyakit calon menantu mereka). Mata jaka berkaca.
Allah Maha Besar! Allah Maha Besar!

Malam itu si gadis menyempatkan diri mengirim pesan via pager pada sahabat perempuan yang sangat disayanginya: Mbak sayang, datanya ketuker ya? Or salah tulis soal penyakit? Hebat dia masih maju terus! Aku tahu dia memang bukan lelaki biasa!


Bulan bahkan sudah tidur sejak tadi. Tapi jaka dan gadis seperti tak ingin memejamkan mata. Mereka tak berhenti menatap satu sama lain; sebuah pesona yang lama dinanti, hadir dari lintasan misteri, menerpa hati dan wajah mereka. Menyala. Ini cinta? Atau belum lagi sampai pada cinta? Apapun itu, mereka percaya, kebaikan menumbuhkan cinta; keindahan yang tangguh. Dan pacaran sesudah menikah? Hmm mungkin itu kenikmatan berlimpah berikutnya.


Subuh pun hadir membasuh kembali wajah mereka. Suara adzan terdengar menggetarkan. Jaka dan gadis sadar, telah mereka genggam anugerah tak terkata itu: bertemu dengan pasangan jiwa yang sudah dituliskan Illahi.

Kini telah lebih dari sepuluh tahun, cinta menemukan dan menempuh jalannya.
Semoga abadi!
Percayalah…pilihan Allah itu tepat,Apa yang terbaik buat kita belum tentu terbaik menurut Allah dan apa yang buruk buat kita belum tentu buruk menurut Allah.

Bunda dan Ulya

Jumat, 29 Agustus 2008

Jangan Tertipu Penampilan

Bismillaahirrohmaanirrohim

Hidup adalah pilihan, dimana dua sisi yang berbeda dan saling bertolak belakang selalu dihadapkan kepada kita sebagai satu-satunya makhluk Allah yang diciptakan oleh-Nya dalam rangka mengemban amanat yang sangat berat yakni sebagai khalifah di muka bumi ini. Sungguh sebuah amanat yang tak satu pun dari makhluk Alloh yang lain sanggup memikulnya.

Kalau boleh memilih, kita tak pernah ingin dilahirkan sebagai manusia yang mempunyai banyak kekurangan. Kita pasti ingin dilahirkan dengan banyak kelebihan dan sedikit kekurangan yang dimiliki atau bahkan tak ada kekurangan sama sekali. Paling tidak kita menginginkan keadaan diri ini diatas rata-rata meski tidak berada dalam titik kesempurnaan. Itu hanyalah angan-angan dan keinginan semata, karena faktanya semua orang yang dilahirkan di atas muka bumi ini pasti mempunyai kekurangan disamping kelebihan yang dimilikinya.

Cobalah untuk merenung, bahwa tidak semua orang dilahirkan dengan bentuk tubuh bagus dan ideal, kulit putih bersih, rambut yang indah, wajah rupawan, mata indah dan tajam, hidung mancung, bibir tipis, dagu terbelah, gigi rapih, terlahir dari keluarga kaya dan berada, terlahir sebagai seorang yang pintar dan berilmu tinggi, dan semua hal yang serba ideal lainnya.

Seandainya saja semua makhluk yang bernama manusia dilahirkan sama baik rupa maupun takdirnya, akan sangat sulit membedakan antara satu sama lainnya. Dipandang dari sisi fisik mungkin kita tak akan pernah bisa mengatakan bahwa tubuh seseorang indah dan ideal, kulitnya putih dan mulus, hidungnya mancung, bibirnya tipis, perutnya rata, kakinya jenjang dan lain sebagainya jika tak ada orang-orang yang bertubuh gemuk, berkulit hitam, berhidung pesek, berbibir tebal, berperut buncit, berkaki pendek, dan lain sebagainya sebagai pembandingnya. Dan dipandang dari sisi sosial kita juga tak akan pernah bisa mengatakan bahwa seseorang berasal dari keluarga kaya raya, pintar dan terhormat jika tak ada orang-orang miskin, bodoh dan tidak terhormat sebagai pembandingnya.

Itulah artinya perbedaan, dan betapa indahnya kalau kita bisa menyikapinya dengan arif. Tapi kenapa diri kita selalu merasa kurang dengan semua hal yang kita miliki saat ini? Kita tidak pede dengan apa yang Allah berikan dalam bentuk fisik kita dan takdir yang kita jalani selama mengarungi lautan kehidupan dunia saat ini. Kita selalu bernafsu dan menyiksa diri agar diri ini terlihat lebih baik untuk membangun rasa percaya diri kita di mata orang lain. Kita lebih sering memikirkan tampilan luar dan topeng kita daripada isi yang kita miliki. Itulah kesalahan kita, sehingga tak jarang kita lebih sering terjebak pada penampilan luar, tertipu oleh pandangan mata tanpa tahu apa yang sebenarnya ada dibalik apa yang terlihat dari penampilannya. Kita lebih suka melihat seseorang yang berpenampilan baik dan berwajah rupawan walau ternyata hatinya busuk daripada seseorang yang berpenampilan buruk tapi berhati mulia.

Dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani, ternyata kita lebih banyak berprilaku seperti itu. Rasa hormat kita bangun dan kita ciptakan hanya bagi orang-orang yang penampilan luarnya baik menurut mata kita saja. Kita selalu berpandangan sebelah mata terhadap orang-orang yang mempunyai kekurangan, padahal belum tentu kita lebih baik dari dirinya dalam pandangan Allah SWT, karena seperti kita tahu bahwa Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh kita, ataupun warna kulit kita, akan tetapi Dia hanya melihat pada sejauh mana ketaqwaan kita kepada-Nya.

Menjadi baik dari segi status sosial dan kemasyarakatan sudah seharusnya kita berusaha untuk itu. Kita tidak dilarang untuk menjadi kaya dan terhormat dalam pandangan manusia. Yang dilarang itu adalah manakala kita telah menjadi orang yang berstatus sosial tinggi tapi melupakan bahkan tidak menghiraukan kelompok-kelompok atau golongan orang-orang yang berstatus sosial lebih rendah dari kita. Menjadi kaya, menjadi terhormat dalam pandangan manusia, seharusnya bisa membuat diri kita berpikir keras dan berusaha agar kita pun senantiasa baik dalam pandangan Allah SWT bukan malah semakin menjauhkan kita daripada-Nya. Status sosial yang tinggi hendaknya membuat kita lebih tawadhu terhadap sesama karena kita tahu bahwa status apa yang kita dapatkan sekarang hanyalah berasal dari Allah semata.

Wallahu’alam.


Bunda dan Ulya